Primbon
Sebelum meninggalkan Jaka Tarub untuk kembali ke kahyangan,
Nawangwulan berpesan: Kelak jika Nawangsih akan menjadi pengantin, pada malam sebelumnya aku akan datang dan memberikan sumbaga kepada anakku
(karya Herjaka HS 2010)
Serial Primbon 101
Midodareni
(4)
Pada awal membangun hidup berumah tangga,
pasangan Jaka Tarub dan Nawangwulan berjanji untuk saling percaya,
saling setia dan saling mencintai, Kehadiran Nawangwulan sungguh
merupakan anugerah besar, tidak saja bagi Jaka Tarub, tetapi juga
bagi keluarga besar dusun Tarub. Namun setelah menginjak tahun ke
dua, Jaka Tarub mulai lalai untuk selalu memperbaharui janji-janji
yang pernah diucapkan. Pesan isterinya agar tidak membuka tutup
periuk, sebelum nasi itu matang telah dilanggar. Dengan diam-diam
Jaka Tarub membuka tutup periuk itu ketika Nawangwulan mencuci di
sungai. Dan apa yang ada di dalam periuk?Midodareni
(4)
Jaka Tarub terkejut, periuk tersebut berisi air mendidih dan padi satu wuli, atau satu tangkai yang masih utuh dengan kulitnya. Apa yang dilakukan Nawangwulan dengan satu tangkai padi? Apakah cukup untuk makan satu keluarga besar Ki Ageng Tarub, pembantu-pembantunya dan kerabat-kerabatnya? Jaka Tarub tak habis pikir dengan apa yang dikerjakan isterinya. Ia kemudian menutup periuk itu seperti semula. Beberapa saat kemudian Nawangwulan pulang, nasi yang dimasak belum juga matang. Nawangwulan membuka periuknya, dan tahulah dia bahwa Jaka Tarub telah melanggar pesannya, membuka periuk, sebelum nasi matang. Nawangwulan menangis. Menangisi Jaka Tarub yang telah mengkianati janjinya. Sambil terisak-isak Nawangwulan menjelaskan, bahwa sebagai seorang Bidadari ia mempunyai daya untuk melipatgandakan bulir-bulir padi. Oleh karenanya Nawangwulan ingin membagikan kelebihan itu kepada seluruh warga tarub. Setiap kali ia menanak nasi, ia hanya membutuhkan satu wuli padi. Setelah padi satu wuli itu matang, akan menjadi nasi berbakul-bakul, cukup untuk makan puluhan orang.
Namun sejak Jaka Tarub melanggar larangan Nawangwulan, rahasia daya untuk melipatgandakan bulir-bulir padi milik bidadari itu tidak berdaya lagi, telah kamanungsan, diketahui rahasianya oleh Jaka Tarub. Jaka Tarub tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa pelanggaran pesan Nawangwulan yang dianggapnya sepele tersebut berakibat fatal bagi kehidupan rumah tangganya, bahkan bagi seluruh warga desa Tarub. Walaupun Jaka Tarub berkali-kali meminta maaf kepada Nawangwulan atas pengkianatannya, keajaiban menggandakan bulir-bulir padi sudah tidak terjadi lagi. Jaka Tarub dan Nawangwulan serta seluruh warga besar Tarub harus bekerja ekstra keras untuk menghilangkan kulit-kulit padi yang akan ditanak. Karena semenjak kejadian itu, sekali menanak nasi, Nawangwulan mebutuhkan padi yang sudah dihilangkan kulitnya berkilo-kilo, sesuai dengan kebutuhannya, sehingga padi yang ada di lumbung cepat menyusut. Beberapa bulan kemudian lumbung padi di rumah besar Ki Ageng Tarub mulai habis, sementara musim panen belum tiba.
Disuatu sore yang cerah, langit biru bersih, Nawangwulan memasuki lumbung yang sudah tinggal sedikit, untuk mengambil padi dan kemudian di hilangkan kulitnya. Pada waktu Nawangwulan memasukan padi ke tenggok, beruknya menyentuh benda lunak.
Apa ini!! Nawangwulan terkejut bukan kepalang. Benda lunak dan halus itu adalah pakaiannya. Pakaian bidadari yang lebih dari setahun lalu hilang di Sendang Larangan. Jika demikian, tentu ada yang mengambilnya dan disembunyikan di lumbung ini. Lalu siapa yang mengambilnya? Apakah Kakang Jaka Tarub? Jika memang benar kakang Jaka Tarub yang mengambilnya. Ada watak yang tidak terpuji dalam pribadi orang yang ia cintai. Pantas saja, baru setahun berlangsung rumah tangganya, kakang Jaka Tarub telah mengkianati cintanya. Nawangwulan semakin bersedih, dikarenakan dengan ditemukannya pakaian tersebut ia akan kembali ke kahyangan, dan berpisah dengan orang-orang yang ia cintai.
Segeralah pakaian itu dikenakan kembali pada badannya. Oh betapa cantiknya bidadari Nawangwulan. Kecantikan yang setahun ini semakin memudar kini telah kembali bersinar. Sore itu pula, Nawangwulan menemui Jaka Tarub, yang sedang membopong Nawangsih anaknya. Jaka Tarub sangat terkejut melihat isterinya memakai pakaian bidadari yang di sembunyikan dilumbung padi. Nawangwulan kembali cantik berkilau, seperti setahun lalu, ketika Jaka Tarub melihatnya untuk yang pertama kali di Sendang Larangan.
Mengamati wajah Jaka Tarub yang pucat ketakutan, tahulah Nawangwulan bahwa suaminya itulah yang mencuri pakaiannya di Sendang Larangan. Rasa bersedih akan berpisah dengan Jaka Tarub, Nawangsih dan warga desa Tarub hilang sudah. Berganti dengan rasa kecewa dan penyesalan. Menyesal karena ia mempunyai suami seorang pencuri. Dengan watak yang tidak terpuji tersebut, maka sudah sepantasnyalah Jaka Tarub tidak kuat mendapat anugerah wahyu yang dapat mensejahterakan lahir dan batin. Buktinya Jaka Tarub sudah melanggar pesan Nawangwulan untuk tidak membuka tutup periuk nasi. Akibatnya padi dilumbung semakin habis, dan akhirnya pakaian Nawangwulan ditemukan.
Bagaikan mimpi, selama setahun Jaka Tarub dan seluruh warga desa Tarub disinggahi sebuah anugerah Nawangwulan. Kini sang anugerah wahyu itu akan segera oncat. Namun sebelum meninggalkan Jaka Tarub, Nawangwulan berpesan. Jika nanti Nawangsihanaknya akan menjadi pengantin, pada malam sebelumnya Bidadari Nawangwulan akan datang dan memberikan sumbaga atau paes kepada pengantin Nawangsih. Malam itulah yang sekarang sering disebut malam midodareni. Malam tumurunnya bidadari Nawangwulan yang akan memberikan sumbaga, paes, kabegjan sejati kepada pengantin putri, sehingga sang pengantin memancarkan nur Illahi.
herjaka HS
Posting Komentar untuk " primbon jawa | Midodareni"