primbon jawa | Midodareni (2)

bulu perindu
Primbon



Jimat Keberuntungan
PELANGI : Dalam kitab Arjuna Wiwaha tulisan Empu Kanwa di tahun 1019, tujuh bidadari yang amat cantik menggoda tapa Arjuna. Sedangkan dalam cerita Jaka Tarub, ketujuh bidadari yang mandi di telaga larangan tersebut keindahannya bagaikan Pelangi dengan tujuh warna mempesona yaitu: merah, jingga kuning, hijau, biru, nila dan ungu. (karya Herjaka HS)
Serial Primbon 99
Midodareni
(2)
Pada kepercayaan lokal tradisional yang belum dipengaruhi oleh agama-agama pendatang, manusia adalah keturunan Dewa-Dewi. Dewa-Dewi dalam konteks ini adalah pancaran dari atribut-atribut Ilahi. Baru kemudian dewa-dewa tersebut diberi nama sesuai dengan mitologi para dewa. Oleh karena manusia adalah keturunan dewa, maka di dalam diri manusia ada energi dewa. Sejauh mana energi tersebut bisa di pancarkan, tergantung orang yang bersangkutan. Berkaitan dengan kepercayaan itu, setiap tokoh-tokoh terkenal seperti misalnya kepala suku, penguasa-penguasa setempat dan raja-raja, membuat cerita yang intinya mengisahkan bahwa dirinya adalah keturunan Dewa. Misalnya; Airlangga adalah keturunan Dewa Wisnu, Ken Arok adalah keturunan Dewa Brahma, Kertanegara adalah keturunan Dewa Siwa dan Budha, dan sebagainya.
Di dalam cerita tutur dan sebagian juga dituliskan di Babad Tanah Jawi. Upacara Midodareni bermula dari cerita Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah seorang keturunan Raja Barwijaya dari Majapahit yang hidup di desa Tarub. Ia diasuh oleh Ki Ageng Tarub dan Nyi Ageng Tarub. Pada suatu hari Ki Ageng Tarub berpesan agar Jaka Tarub tidak bermain di sendang larangan, tanpa penjelasan mengapa tidak boleh pergi ke sendang larangan. Dengan larangan tersebut, Jaka Tarub justru menjadi semakin ingin tahu, ada apa di sendang larangan tersebut.
Pada sore hari yang cerah, dengan sembunyi-sembunyi, Jaka Tarub pergi ke sendang larangan. Sesampainya di sendang, matanya terbelalak penuh ketakjuban. Ada tujuh gadis yang luar biasa cantiknya sedang mandi di telaga. Badannya yang tanpa busanya sungguh amat sempurna. Siapakah gerangan ke tujuh gadis tersebut? Tentunya mereka bukan gadis sembarangan. Jaka Tarub sangat terpana dengan pemandangan tersebut, namun ia takut kalau kehadirannya diketahui oleh mereka. Oleh karenannya ia tidak berani keluar dari persembunyiannya. Dari balik persembunyiannya, Jaka Tarub melihat pakaian para gadis yang bertumpuk di atas batu. Maka timbulah niat nakalnya untuk mengambil pakaian tersebut. Dengan sangat hati-hati, Jaka Tarub mengambil pakaian yang bertumpuk tak beraturan itu dengan ‘tulup’nya. Setelah mendapatkan satu pakaian, Jaka Tarub segera meninggalkan Sendang larangan dengan langkah yang berusaha tidak menimbulkan suara.
Sesampainya di rumah, hari telah senja, Jaka Tarub cepat-cepat menyembunyikan pakaian yang dicurinya dari sendang larangan di tempat yang aman. Walaupun tidak ada orang yang tahu, dengan apa yang dilakukannya, termasuk Ki Ageng Tarub, Jaka Tarub tidak tenang hatinya. Pikirannya selalu terganggu oleh bayangan tujuh gadis yang mandi di Sendang larangan. Mumpung hari telah menjadi semakin gelap, Jaka Tarub ingin kembali lagi ke sendang larangan. Setelah mendekati sendang larangan, Jaka Tarub mulai memperlambat langkahnya. Tiba-tiba telinganya mendengar orang menangis. Jaka Tarub berhenti untuk memastikan pendengarannya. Benar suara tangis seorang wanita dari arah sendang larangan. Jaka Tarub yang memang pemberani, mendekati arah suara orang yang menangis. Dalam remang cahaya bulan paro tanggal, mata Jaka Tarub yang tajam seperti elang dapat melihat bahwa orang yang menangis tersebut adalah salah satu dari gadis yang mandi sore tadi di sendang larangan. Dengan desiran hati yang tak terkira, Jaka Tarub menyapa dengan lembut Gadis yang menangis terisak-isak, dengan menutupi bagian tubuhnya yang terlarang. Gadis tersebut terkejut tak terkira, mendapat sapaan Jaka Tarub. Ia memberikan isyarat agar Jaka Tarub tidak mendekat. Sebagai jejaka keturunan raja besar, Jaka Tarub cepat tanggap terhadap apa yang harus diperbuat. Kain selimut yang dibawa dilemparkan kepada Gadis sempurna itu. Dengan cekatan kain tersebut ditangkap dan kemudian dengan cepat dipakai untuk kembenan. Sambil mengucapkan terimakasih, tanpa ditanya gadis tersebut mengaku bernama Nawangwulan. Ia adalah salah satu dari tujuh bidadari yang bercengkerama di sendang ini. Sebelum senja tiba mereka harus segera bergegas kembali ke kahyangan. Namun malang bagi Nawangwulan, karena pakaiannya hilang, ia terpaksa ditinggal oleh keenam Bidadari yang lain kembali ke kahyangan. Karena tanpa Pakaian Bidadari, Nawangwulan tdak bisa terbang kembali ke kahyangan.
bulu perindu
Tidak terlintas di benak Jaka Tarub, bahwa perbuatannya yang sekedar iseng tersebut mendatangkan malapetaka terhadap salah satu bidadari kahyangan yang bernama Nawangwulan. Namun jika mengembalikan pakaian itu, sama halnya dengan mengaku sebagai pencuri. Jaka Tarub tidak mau dianggap sebagai pencuri, ia ingin tampil dihadapan Nawangwulan sebagai penolong. Maka kemudian ia menawarkan Nawangwulan untuk singgah di rumahnya. Dan Jaka Tarub berjanji akan mencarikan pakaian Nawangwulan sampai ketemu. Tidak ada pilihan bagai Nawangwulan, selain mengiyakan apa yang ditawarkan Jaka Tarub.
Kabar mengenai keberadaan seorang Bidadari di rumah Ki Ageng Tarub cepat tersebar. Para penduduk Desa Tarub pada berdatangan untuk menyaksikan kecantikan dari seorang Bidadari. Nawangwulan sungguh terhibur dengan keramahan seluruh warga Desa Tarub. Di Kahyangan para Dewa-Dewi, Nawangwulan tidak pernah mendapat perlakuan semulia ini.
herjaka HS
Ilmu Pelet Ampuh

Posting Komentar untuk " primbon jawa | Midodareni (2)"